Hassan Aly

Hassan Aly

I'm a lazy-self-taught programmer, currently working at Sebangsa. Spend my free time write blog, read book, gaming, and daydreaming.

Hassan Aly

Node.js Tools: npm-quick-run

Membuat web atau aplikasi yang berbasis JavaScript, saya sering menggunakan Node.js dan NPM sebagai perangkat pendukung atau malah sebagai pondasi.

Jika memakai kedua software tersebut, saya sering membuat perintah yang sering jalankan di package.json bagian scripts.

Hassan Aly

Apps untuk Produktifitas

Saya sering kesulitan mengelola waktu. Terutama pembagian antara waktu kerja dan waktu bermain. Semakin lama, saya menyadari banyak waktu yang terbuang sia-sia karena distraksi atau sekadar melamun, atau molor sepanjang hari.

Saya mulai lelah merasa kehabisan waktu yang sehari terbatas tak sampai 24 jam. Solusi yang terpikirkan adalah mencatat semua yang berkaitan dengan produktifitas dan waktu.

Mencatat manual pakai buku selalu tak berjalan lancar. Yang saya butuhkan adalah aplikasi yang berjalan di berbagai perangkat yang saya gunakan. Minimal Android dan Web. Aplikasi tersebut juga sederhana dan mudah dipakai dan akan tambah menarik jika ada unsur gamification.

Hassan Aly

Mau AVA?

npm install ava
npm run test

AVA mau kalian?

Hassan Aly

Konfigurasi webpack Sederhana untuk React JS

Kemarin saya berencana bikin app sederhana dengan React JS—saya sudah lama tak membuat app baru dengan React JS, saat ini merawat app React yg sudah ada—kemudian saya teringat, membuat app dengan React JS perlu beberapa langkah pendahuluan agar bisa berjalan di peramban.

Jujur saja, membuat app dengan React tak semudah menempel jQuery di berkas HTML dan menjalankannya di peramban. Meski sebenarnya bisa saja ditempel di berkas HTML seperti pada dokumentasi React, namun jika ingin app mudah dirawat di kemudian hari, ada baiknya dari sekarang dibikin agak ribet sedikit.

Hassan Aly

Kurang Kerjaan di Long Weekend

Besok long weekend dan sejak sore tadi saya berencana untuk berganti distro linux. Mumpung ada waktu. Dan saya tertarik dengan Arch Linux. Alasannya sederhana, tak perlu repot memperbarui OS setiap dua tahun.

Setelah mencoba membuat bootable USB berisi Arch Linux dan boot ke USB tersebut. Saya kemudian sedikit sadar. Saya tak terbiasa memasang OS dengan terminal tok. Bagaimana partisi harddisk, menambah user, dan lain hal-saya-belum-ketahui sebagainya.

Akhir saya urungkan memasang Arch Linux di laptop utama. Nanti saja di laptop lain. Yang saya takutkan, jika salah ketik perintah, bablas semua berkas pekerjaan saya.

Best Practices dalam kehidupan, selalu mencoba hal yang baru di lingkungan terkontrol.

Namun keinginan untuk memperbarui sistem saya saat ini (Ubuntu 14.04) sangat kuat. Rencana sebelumnya sih, saya akan memasang Ubuntu Mate 16.04 ketika sudah rilis. Kenapa berpindah ke Mate? Karena dash Ubuntu Unity sangat lemot.

Tapi, saya tergoda untuk menjalankan perintah do-release-upgrade -d di Ubuntu 14.04 yang hasilnya adalah memasang OS versi development yang tersedia saat ini, yaitu Ubuntu 16.04 Beta 1—mungkin, yang jelas versi development.

Akhirnya tetap saya jalankan perintah tersebut. Dan saat menulis tulisan ini, proses upgrade tersebut masih berjalan.

Kemudian saya berpikir, “kalau gagal gimana ya?” Saya putuskan jika bermasalah, akan saya clean install dengan Ubuntu Mate 16.04 Beta 1. Semoga bisa beres sebelum hari senin :D.

Selamat Long Weekend!

Hassan Aly

Selamat Pagi

Sekian lama saya hidup di malam hari. Di mana kebanyakan orang tidur, saya bekerja, menatap layar laptop sampai terbit matahari.

Pada suatu titik kebiasaan menjadi makhluk nocturnal membosankan dan merugikan. Saya tak bisa mengatur waktu dengan efisien, tergesa-gesa karena kesiangan bekerja, dan waktu sehari terasa pendek, karena kalender selalu berganti ketika saya tengah berkegiatan.

Untuk mengubah kebiasaan tersebut saya ingin membuat sistem bangun pagi dan tanpa alarm.

Kenapa tanpa alarm? Saya pernah mencobanya dan selalu gagal. Bagi saya, alarm sangat mengganggu. Alarm hanya menunjukkan kelemahan pendirian saya untuk bangun tidur.


Sudah beberapa pekan ini saya sering bangun pagi dan tanpa alarm. Kebiasaan baru ini saya tempuh dengan me-reset jam tidur saya dan menetapkan hati untuk segera bangun tidur tanpa beralasan “lima menit lagi”.

Dengan sistem bangun tanpa alarm, saya “terpaksa” bangun, sebab tak ada tombol “snooze” yang bisa menjadi alasan saya untuk menunda bangun.

Kebiasaan baru ini mulai membawa kenikmatan dalam hari-hari yang saya jalani.

Saya melihat banyak hal yang hanya terjadi di pagi hari. Otak saya lebih jernih dan tak tergesa-gesa karena sehari terasa lebih panjang.

Beberapa waktu yang lalu di pagi hari, saya menyadari cerahnya langit setelah hujan pada malam sebelumnya. Hal yang indah untuk dinikmati tanpa perlu piknik.

Dan sempat terkenang waktu masih sekolah dahulu. Saya jarang bisa menikmati pagi setelah jam tujuh. Saya rasa, waktu masuk sekolah perlu diundur lebih siang, agar anak muda bisa menikmati dan mensyukuri indahnya pagi.